Sejak kemunculan Musik Kristen Kontemporer tahun 1970an, musik kristen seolah terbagi menjadi dua, yakni Hymne (tradisional) dan kontemporer. Hymne lebih menekankan pada suasana yang tenang, cenderung tidak bersemangat dan terkesan tua karena sangat khidmat. Hymne juga diklasifikasikan pada musik berat, lantaran memiliki notasi cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi dinikmati.
Kondisi ini membuat hyme disebut sebut sebagai musik kuno. Karena hanya mudah dimengerti oleh kaum-kaum tua. Sedangkan musik kristen kontemporer, terkesan lebih dinamis, penuh semangat dan ringan. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati. Dua hal inilah yang saat ini memunculkan kontroversi di kalangan gereja.
Musik yang dulunya sangat hening tanpa alunan drum. Kini sudah lebih berisik, karena para musisi rohani sudah berbondong-bondong beli drum elektrik atau manual, dan menjadikannya salah satu instrumen penting digereja. Meski banyak menuai perdebatan namun banyak pihak memprediksi, lambat laun gereja akan menerima dengan terbuka pada datangnya musik kristen kontemporer.
Pasalnya jika gereja memakai lagu-lagu penyembahan kontemporer, maka gereja itu akan bertumbuh, dan jika melawannya maka gereja itu jika tidak mati, akan mengalami kemandekan. Ini adalah bagian dari konsekuensi mereka yang tidak mengikuti zaman. Yaitu, secara otomatis jumlah jemaat yang muda akan berkurang. Kenapa? Karena anak-anak muda lebih suka kebaktian yang lebih variatif. Terlepas dari benar atau tidaknya prediksi ini, musik kontemporer memang layak jual. Jadi bagi anda yang masih bingung mencari genre musik yang sesuai. Musik kristen kontemporer mungkin bisa dipertimbangkan.
